Kemarilah nak, duduk disampingku akan kuceritakan kau salah satu legenda yang pernah aku dengar dari nenekmu. Semoga dapat kau jadikan sebagai tolak ukur untuk keputusanmu ini.
Tahukah kau bahwa, Serigala ada ketika rembulan memancarkan keelokannya? Keluar berburu mangsa dan menggunakan suaranya yang bergema lalu membiarkan semilir angin membawanya mengitari alam. Membangkitkan bulu kuduk para penduduk desa. Semua penduduk desa berusaha menepi. Menutup rapat-rapat pintu serta jedela, bahkan semua jalur yang mampu mengantar semilir angin bersama suara itu sampai ketelinga para penduduk desa.
Suara tangisan anak kecil pecah karena ketakutan yang begitu besar melanda jiwa mereka. Para orang tua dengan paniknya berusaha sekuat tenaga menenangkan agar tak adalagi tangis yang pecah. Namun, apa daya? mereka juga tak kuasa. Ketakutan mereka lebih besar dibanding para anak kecil itu. Hanya saja, mereka tetap tenang dalam kegelisahannya.
Itu akan terus terjadi nak, tiap kali rembulan memancarkan keelokannya. "Ibu" ucap Asih. Hussttt, Asih lupakah kau dengan semua yang Ibu ajarkan? jangan pernah memotong pembicaraan Ibu ketika aku sedang bercerita denganmu, itu tak sopan. Kau cukup menjadi pendengar yang baik ketika aku berbicara. Setelah aku diam, maka itu berarti aku baru mempersilahkan dirimu untuk berbicara, bertanya, ataupun kau ingin mengemukakan pendapatmu. "Maafkan Asih, Ibu" dengan nada bersalah Asih mengungkapkan maafnya. Husssttttt, ada apa dengan dirimu Asih? Kau juga lupa bagian ini? Bahwa aku tak pernah menyuruhmu untuk meminta maaf kepadaku, jika kau bersalah. Haruskah aku mengulangi penjelasanku yang sering kusampaikan padamu hingga kau beranjak remaja seperti ini? Kesalahanmu itu, tidak untuk aku maafkan, karena itu hanya akan membuat kau kembali mengulangi kesalahanmu. Karena kau berfikir, jika aku menerima maafmu maka kau menganggap kata maaf itu mudah untuk dikeluarkan. Jika melakukan kesalahan, tinggal ucapkan kata maaf maka selesai perkara dan dengan mudahnya aku melupakan kesalahanmu? Kau salah Asih, kau salah nak. Hal itu, hanya akan mendorongmu untuk kembali melakukan kesalahan. Dan aku akan tetapmengingat kesalahanmu. Jadi, cukup kau jadikan kesalahanmu itu sebagai pembelajaranbagi dirimu untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Hanya orang bodoh Asih, hanya orang bodoh nak yang terus melakukan kesalahan yang sama.
"Baiklah, Ibu" Angguk Asih. Aku harap kau tak memasang 2 perangkat dikepalamu, 1 perangkat masukan dan satu perangkat keluaran. Yang akan kau fungsikan setelah pembicaraan ini usai. "Tidak Ibu, aku tidak akan melakukan itu" Jawab Asih dengan yakin. Mulailah dengan membangun langkah anakku, jangan hanya dengan perkataan kosong yang manis ibarat gula. "Ibu meragukanku?" Tanya Asih dengan nada sedih. Aku tak meragukanmu nak, sedikitpun tak pernah. Hanya saja, aku sedikit tak senang dengan mereka yang telah berangan-angan tinggi namun namun tak ada tindakan untuk mewujudkannya. Percuma anakku, percuma merajut asa tanpa tindakan. Lihat Ibu!!! Aku yakin kau bisa mengerti, menelah semua yang terlontar dari mulut Ibu. ":)" Resapon Asih. Kau tersenyum, itu Ibu anggap bahwa kau telah memahaminya.
"Ibu, sudikah kau melanjutkan cerita legenda tadi?" Pinta Asih. Aku sudah tua anakku, daya ingatku tak cukup kuat untuk mengingat apa yang telah kusampaikan. Itu sebabnya aku tak senang jika kau memotong pembicaraanku ataupun tak memperhatiakn apa yang kukatakan, karena aku khawatir begitu kau melakukan hal seperti tadi, maka aku tak bisa mengingat apa yang telah kusampaikan padamu. "Aku terlalu memikirkan kesalahanku yang pertama tadi Ibu, jadi aku juga lupa pada kalimat mana aku memotong pembicaraanmu. Aku menyesal Ibu" kata Asih, dengan nada menyesal juga. Kau menyesal? Untuk apa? Memangnya dengan kamu menyesal akan mengembalikan waktu kemasa saat kamu belum memotong pembicaraanku tadi? Tidak kan nak? Jadi tak ada untungnya kau menyesal.
Menyesal hanya akan menyita waktumu ditengah -tengah kau membangun langkah. Jadikan penyesalanmu itu sebagai spion agar kau lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Menyesal tak ada gunanya, buang-buang waktu saja anakku.
Selasa, 14 Januari 2014
Kemarilah Asih, Kuceritakan Legenda~
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar